Hadisttersebut merupakan nasehat dari MaulanaHabib Luthfi bin Yahya melanjutkan, "karena kasih sayang Nabi kepada umatnya, umat mudah sekali bertemu dengan Rasulullah saw (melalui mimpi maupun secara langsung). Bahkan, lebih mudah bertemu Nabi saw daripada bertemu para wali, wakil-wakil Nabi di bumi ini". Kemudian Maulana Habib Luthfi bin Yahya membaca beberapa bagian dari NabiMuhammad,SAW. adalah utusan Allah yang sekaligus pemimpin akhir zaman juga penutup Nabi dan Rasul. Sedangkan kita adalah umat akhir zaman. Dengan demiki HAJIWADA'. Haji wada adalah perpisahan Rosulululloh dengan umatnya. Segala sesuatu akan ada akhirnya. Setiap kisah, ada penutupnya. Manusia datang, kemudian mereka pergi. Awalnya mereka mengucapkan salam pertemuan, lalu kemudian mereka berlalu dengan perpisahan. Hal demikian terjadi pada setiap orang, tidak terkecuali nabi kita Muhammad SAW. ImamMalik dalam kitabnya, Al-Muwatta, meriwayatkan hadits bahwa suatu ketika para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai apakah orang yang beriman bisa terjerumus ke dalam perbuatan zina dan mencuri. Lalu dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW atas dua hal tersebut menjawab, "Iya". Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. Rasulullahsendiri dalam catatan sejarah melaksanakan haji wada pada tahun ke 10 Hijriyah. Dalam suatu hadis, saat melaksanakan haji perpisahan ini, Nabi Muhammad berpesan kepada umatnya untuk menjadi Mukmin , Muslim, Mujahid dan Muhajir. Nabilangsung ke neraka dan mencari umatnya yang memiliki iman sebesar biji kurma. Ketika bertemu dengan Rasulullah umat ini habis disiksa dan tubuhnya luka parah. Kemudian Rasulullah memeluk mereka dan mempersilakan masuk ke surga. Setelah tidak ada lagi, Nabi Muhammad SAW kembali sujud di hadapan Allah dengan sujud yang sangat lama. Janganlahkamu menganiaya diri sendiri." Melalui pesannya itu, Nabi mengingatkan kepada umatnya untuk saling memelihara persaudaraan. Melalui persaudaraan insani ini, akan bertambah rasa cinta manusia satu sama lain. Dalam Islam, rasa cinta demikian tidak hanya terhenti pada batas-batas tanah air tertentu. PakarIlmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, misi Muadz bin Jabal ke Yaman diiringi dengan surat-surat kepercayaan dari Nabi Muhammad. Yang salah satunya berisi: "Inniy bu'itstu lakum khaira ahliy,". Yang artinya: "Aku mengutus kepadamu, wahai penduduk Yaman, keluargaku yang terbaik,". lOGDHxU. Sadarkah kamu, betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita semua, tetapi banyak orang yang tidak sadar. Diantaranya adalah nikmat ketika masa muda, ketika mendapatkan kesehatan, ketika diberikan kekayaan, dan dengan hal di atas, Rasulullah SAW berpesan melalui hadis dari Ibnu 'Abbas Radiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangku sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu" Supaya penjelasannya lebih dimengerti, simak ulasan berikut ini, ya!1. Manfaatkanlah waktu mudamu, sebelum waktu tuamuilustrasi membaca Al-Qur'an masih muda, pasti kita masih merasakan fisik yang sehat dan bugar, ya. Berbeda ketika sudah tua, fisik pasti melemah, bahkan semangat pun akan semakin menyusut. Sebelum terlambat, masa muda kita harus memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu dengan menjalani kehidupan yang penuh produktif, semata-mata untuk meraih rida Allah SWT. Jangan sampai ketika sudah tua nanti, penyesalan datang karena tidak memaksimalkan ibadah ketika masa mudanya. Perbaiki, yuk!2. Manfaatkan waktu sehat, sebelum datang waktu sakit ilustrasi produktif adalah aset yang paling berharga bagi setiap orang. Tidak semua orang mampu merasakan nikmat yang satu ini. Kadang ada yang harus diberi sakit dulu oleh-Nya, baru ia merasakan betapa berharganya berpesan, agar kita tidak menyia-nyiakan waktu ketika sehat, dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Lakukanlah hal yang positif sesuai dengan porsi dan kemampuan kita masing-masing. 3. Kekayaanmu, sebelum masa fakirmuilustrasi memegang uang Grabowska Hidup menjadi orang kaya, tidak selamanya mengenakkan, lho. Tahukah kamu, bahwa ujian Allah itu lebih berat diberikan kepada orang kaya daripada orang fakir. Orang kaya akan diuji sejauh mana ketulusan mereka dalam menyedekahkan hartanya di jalan semua harta itu hanyalah titipan semata, dan tentunya ada beberapa golongan yang memiliki hak terhadap harta kita. Seperti kaum duafa, miskin, fakir, dan sebagainya. Jika tidak kita sedekahkan kepada orang yang membutuhkan, maka hidup kita di dunia ini seakan-akan tidak ada artinya. Baca Juga Meneladani Kesalehan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 4. Isi waktu kosongmu, sebelum masa sibukmu ilustrasi membaca buku dan manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin. Bisa dengan membaca buku, berolahraga, belajar, dan kegiatan positif lainnya. Pada intinya, tetaplah untuk memiliki kegiatan yang positif, agar hidup semakin bermakna. Ada pepatah Arab mengatakan, "waktu itu lebih berharga daripada emas."Begitu berharganya, sehingga emas pun kalah eksisnya dengan waktu. Mulai dari sekarang, mari kita berusaha agar waktu yang kita miliki, bermanfaat dan jauh dari kata sia-sia. 5. Hidupmu sebelum matimuilustrasi dalam perjalanan adalah tentang perjalanan. Pada hakikatnya, semua akan kembali kepada sang pencipta alam semesta. Bekal yang perlu dipersiapkan untuk pulang hanyalah satu, yaitu ketaatan kepada Allah SWT. Kematian pasti tidak ada yang tahu, kan. Ia bisa datang kapan saja, dan di mana saja tanpa kita ketahui. Jangan sampai ajal menjemput, kita menyesal karena umur semasa di dunia tidak digunakan dengan baik. Semoga sehat yang Allah berikan, kekayaan yang melimpah, juga waktu yang kita miliki, bisa menjadi wasilah kebaikan untuk menghadap sang pencipta kelak. Amin. Baca Juga Surah Abasa, Teguran Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Oleh Fauzi Bahreisy Nabi SAW bersabda, "Bertakwalah kepada Allah di mana dan kapan saja engkau berada. Susullah keburukan dengan amal kebaikan sebab itu bisa menghapusnya. Tunjukkan akhlak yang baik kepada manusia!" HR at-Tirmidzi. Pesan Nabi SAW di atas adalah pesan yang sangat berharga. Pesan tersebut berlaku bagi semua umatnya hingga hari kemudian. Mengamalkannya merupakan jaminan kesuksesan dunia dan akhirat. Pertama adalah pesan untuk bertakwa di mana dan kapan saja berada. Takwa adalah tujuan dari segala tujuan hidup manusia. Secara bahasa takwa berarti melindungi dari dari mara bahaya. Hakikat takwa adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan; bersyukur dan tidak kufur; ingat kepada-Nya dan tidak lupa; serta taat dan tidak bermaksiat. Orang yang berhasil menata hidupnya dalam ketakwaan, akan mendapatkan banyak kebaikan. Ia bisa mencapai derajat kewalian lihat QS Yunus 62-63. Ia layak menjadi orang yang mulia di sisi Allah lihat QS al- Hujurat13. Ia akan dibimbing untuk bisa membedakan antara hak dan batil lihat QS al-Anfal 29. Ia akan mendapatkan solusi dan jalan keluar dari segala persoalan QS ath-Thalaq 3-4. Serta ia juga akan mendapat pengampunan dosa sekaligus limpahan pahala lihat QS QS ath-Thalaq 5. Karena itu, Nabi SAW selalu memberikan pesan untuk bertakwa dalam setiap kesempatan. Itulah bekal terbaik manusia dalam menjalani kehidupan. Kedua, pesan untuk senantiasa menyusul keburukan dengan amal kebaikan. Pasalnya, sehebat apa pun usaha untuk menata ketakwaan, kita tetaplah manusia yang tidak lepas dari dosa dan salah. Manusia bukan malaikat dan bukan pula bidadari surga. Manusia tempatnya lupa dan alfa. Ada saat ia jatuh dan tergelincir pada kesalahan. Namun demikian, Nabi SAW tidak ingin umatnya berputus asa dan patah semangat untuk menjadi orang baik. Beliau memberikan jalan keluar. Yaitu pada saat seseorang tergelincir dalam kesalahan, ia tidak boleh diam dan terus membiarkan diri di dalamnya. Apalagi bangga dan memamerkan kesalahan yang ada. Sebab, dosa dan kesalahan yang dibiarkan bisa membesar dan menjadi petaka. Hati bisa menjadi rusak dan berkarat sebagaimana firman Allah dalam surah al-Muthaffifin ayat 14. Tempat dilakukannya dosa dan maksiat juga bisa menjadi saksi di akhirat. Karena itu, Nabi SAW menyuruh segera menyusul keburukan dengan amal kebaikan. Hal itu agar hati segera menjadi bersih kembali tidak sampai berkarat. Juga agar semua tempat kita berpijak dan beraktivitas tidak menjadi saksi keburukan. Akan tetapi, sebaliknya, menjadi saksi kebaikan. Ketiga, pesan untuk berakhlak baik kepada manusia. Pasalnya, ketakwaan kepada Allah dan usaha menjaganya bisa hancur berantakan lantaran akhlak buruk kita. Ahli ibadah bisa bangkrut dan celaka lantaran akhlak buruknya. Orang yang tekun salat dan rajin puasa bisa binasa lantaran perbuatan keji yang dilakukannya. Atas dasar itulah, ketakwaan harus dirawat dan dijaga dengan cara menunjukkan akhlak mulia. Iman baru bernilai bila disertai akhlak yang mulia. Ibadah baru diterima bila berhias akhlak mulia. Ilmu juga baru bermanfaat bila melahirkan akhlak mulia. Itulah sebabnya Nabi SAW bersabda, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." HR Ahmad. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini —Islam mengajarkan umatnya untuk berpandangan visioner, alih-alih sempit. Dalam Alquran, ada banyak ayat yang menegaskan keutamaan akhirat dibandingkan dunia. Bagaimanapun, Allah SWT juga mengingatkan hamba-Nya yang beriman untuk tetap mencari bagian penghidupan di dunia. Dengan perkataan lain, penuhilah kebutuhan hidup di dunia ini sewajarnya. Sebab, segala yang ada di kolong langit pasti memiliki batas. Bagi manusia, limit yang tidak mungkin disangkal lagi adalah usia. Kalau jatah umur sudah sampai ajal, tidak berguna lagi apa pun pernak-pernik duniawi. Nabi Muhammad SAW memberikan nasihat dan keteladanan tentang cara hidup yang ideal. Berikut ini beberapa petuah di antaranya Pertama, menjadi musafir. Pengembara adalah mereka yang bepergian meninggalkan kampung halamannya. Rasulullah SAW mengajarkan, seorang Muslim hendaknya memahami kehidupan di dunia ini layak nya musafir. مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا “Aku tidak memiliki kecenderungan kecintaan terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan mening galkan pohon tersebut.” HR Tirmidzi. Perjalanan yang ditempuh akan sampai pada titik kembali. Dalam Alquran, Allah SWT menyatakan bahwa Dialah tempat kembali segala urusan. Maka, sepantasnya jatah usia seorang Mukmin di dunia dihabiskan untuk terus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sebab, saat diadili kelak di Hari Akhir, harapannya adalah berjumpa dengan kasih sayang dan ridha-Nya, bukan murka-Nya. Kedua, ingat maut. Imam Syafii berkata dalam sebuah syairnya, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” Menurut ajaran Islam, kematian bukanlah akhir. Ia justru menjadi awal perjalanan insan menuju kampung akhirat. Tiap orang nanti hanya akan ditemani catatan amal perbuatannya. Yang tersisa hanyalah sesal dan sedih bagi mereka yang fasik, apalagi kafir. Diandaikannya bahwa raga dapat kembali utuh dan hidup, sehingga bisa berbuat taat kepada Allah SWT. حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan QS al-Muminun ayat 96-97. Ketiga, berbekal takwa. Warna-warni dunia kerap membuat orang lupa akan hakikat kehidupan. Padahal, dunia ini tidak lebih dari permainan belaka. إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu.” QS Muhammad ayat 36. Karena itu, Rasul SAW selalu mengingatkan umatnya agar pandai dalam menyikapi hidup. Dunia sejatinya adalah ladang amal, tempat menuai bekal sebanyak-banyak dan sebaik-baiknya. Bekal terbaik hanyalah iman dan takwa kepada Allah SWT. وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ “Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya se baik-baik bekal adalah takwa.” QS Al Baqarah ayat 197. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini